Tidak dipungkiri bahwa peningkatan mutu produk pertanian berkaitan erat dengan cara budidaya yang baik dan benar. Pemenuhan kebutuhan pengairan terjadwal, pemupukan tepat dosis dan pengendalian hama penyakit secara terpadu yang telah dilaksanakan dalam berbudidaya amat diharapkan dapat menghasilkan mutu produk pertanian yang berkualitas baik.

Estimasi Produktivitas
Salah satu metode dalam Estimasi Produktivitas Dalam Rangka Peningkatan Mutu Hasil Produk Pertanian adalah sampling ubinan. Teknis pengambilan sampling ini dilaksanakan secara rutin oleh Petugas Penyuluh Lapang (PPL) Pertanian pada saat panen untuk estimasi secara kuantitas produk, serta pengamatan langsung kualitas produk.
Kualitas mutu Tanaman Jagung yang baik antara lain ditunjukkan dengan tinggi tanaman seragam, bonggol jagung tumbuh tegak dalam posisi keatas, daun utama terlihat hijau lembab dan tidak terindikasi terkena serangan hama penyakit khususnya jamur, daun klobot rata menutup dan membungkus seluruh bonggol , tidak terdapat bintik-bintik/lubang bekas gigitan serangga atau hewan pengerat, berat bonggol jagung saat kering panen seragam, bentuk fisik bulir jagung rata tumbuh/berisi padat mengisi keseluruhan bonggol (tergantung varietas umum pelepasan).

Umumnya tanaman jagung yang diproduksi oleh petani kita untuk memenuhi kebutuhan pakan hewan, sehingga selain dari kualiitas dan kuantitas mutu hasil pada saat panen, juga memerlukan perlakuan pascananen, khususnya untuk meminimalisir serangan jamur pada tahap pascapanen.
Tahap Pengeringan dan Penyimpanan
Memperhatikan bahwa produk pertanian merupakan komoditas yang tidak tahan lama dalam penyimpanan tanpa perlakuan khusus dan sangat rawan terkena jamur. Metode yang umumnya dilakukan oleh petani antara lain adalah penurunan kadar air dalam 2 tahap, yaitu pengeringan tahap pertama pada kondisi tanaman jagung masih dilahan dengan melihat kondisi cuaca dan belum dipanen, pengeringan pada tahap ini dengan cara menyisakan tanaman hanya pada buah jagung yang masih tertutup klobotnya dikeringkan langsung dilahan (diklanthang) dengan terik matahari. Dalam pengeringan tahap pertama ini dapat menurunkan kadar air antara 17% – 18%, kondisi tersebut tanaman jagung mudah untuk dipipil dan tidak menimbulkan kerusakan pada bulir jagung.
Pengeringan tahap kedua merupakan pengeringan dengan cara dijemur dibawah terik matahari dalam kondisi jagung pipilan pada lantai jemur yang dialasi/dasar dengan plastik. Selain untuk menghindari serangan jamur, pengeringan ini bertujuan agar bulir jagung aman disimpan dalam waktu lama. Proses pengeringan ini harus segera dilakukan setelah panen, sebaiknya dimulai kurang dari 24 jam setelah panen dan dipipil kering, pengeringan ini dapat berlangsung selama kurang lebih 3 hari dalam kondisi cuaca cerah, perataan dan pembalikan bulir jagung perlu dilakukan agar didapat kadar air yang merata.
Syarat perdagangan tanaman jagung memiliki kadar air 14%, namun demikian saat dalam proses penyimpanan idealnya adalah 13%. Hal paling rawan adalah kadar air diatas 14%, dimana jamur dapat tumbuh dengan baik saat proses penyimpanan berlangsung. Daya simpan jagung pipil akan lebih lama apabila dibungkus dengan plastik dan dilapisi lagi dengan karung plastik dibanding hanya disimpan dalam karung goni.
Pemenuhan Kebutuhan Jagung Dalam Negeri
Pemerintah telah menyiapkan kebijakan terkait percepatan pengembangan jagung dengan menetapkan strategi pengembangan jagung menuju swasembada berkelanjutan melalui Roadmap Jagung 2022-2024. Saat ini, beberapa negara pengekspor jagung menerapkan pembatasan ekspor guna memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dalam negerinya. Kebijakan tersebut mengakibatkan terjadinya kenaikan harga jagung dunia. Selain itu juga sebagai dampak dari kondisi geopolitik global saat ini akibat konflik Rusia-Ukraina.
Jadi apabila ditilik dari berita tersebut, jelas peran Indonesia didunia pertanian khususnya komoditas jagung sangat berpengaruh. Peningkatan kualitas mutu hasil pertanian akan mendapatkan hasil sesuai ekspetasi pemerintah apabila pelaksanaan berbudidaya yang baik diterapkan dengan serius tidak hanya oleh petani, pemerintah daerah saja namun perlu dukungan kebijakan yang serius pula terutama dalam pemenuhan kebutuhan pupuk yang saat ini nampaknya perlu untuk ditinjau kembali untuk komoditas-komoditas andalan pertanian di Indonesia.
Penulis : TITO SUMARSONO, SP, MM / Pengawas Mutu Hasil Pertanian Ahli Muda
Foto : Kegiatan PPL pada BPP Wilayah Binaan Kecamatan Pesantren Kota Kediri