Kunjungan lapang Dinas PUPR Kota Kediri dari JFT Analis Pengairan dan Kepala Bidang Pengairan dengan Petugas Penyuluh Lapang bersama JFT PMHP Bidang Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Kota Kediri yang merupakan tindaklanjut dari sinergitas yang telah terjalin baik, antara lain adalah rehabilitasi jaringan irigasi pertanian.
Peningkatan mutu hasil pertanian tidak lepas dari pemenuhan kecukupan pengairan pada tahap budidaya pertanian. Irigasi pengairan pertanian yang lancar menjadi prioritas bagi petani dan prioritas pelayanan masyarakat dari Pemerintah Kota Kediri.


Pengairan yang cukup akan sangat berpengaruh pada kualitas dan kuantitas mutu hasil pertanian, semisal tanaman padi pada daerah dengan kondisi ideal yakni irigasi teknis terbangun dan ketersediaan air sepanjang tahun pada lahan pertanian dapat meningkatkan produktivitas padi sampai dengan diatas 6,50 ton/ha dan peningkatan Indeks Pertanaman (IP) sampai 300 bahkan maksimal diangka 400 atau 3 kali sampai maksimal 4 kali tanam per-tahun dibanding dengan lahan marginal dengan pengairan tadah hujan atau beririgasi non teknis yang hanya menghasilkan kisaran produktivitas antara 4,00 ton/ha sampai dengan kurang dari 6,5 ton/ha dan IP kurang dari 150 atau 1,5 kali tanam per-tahun.
Kualitas hasil panen juga dipengaruhi oleh tataguna pengairan, secara umum pada tanaman saat fase vegetatif/pertumbuhan pembentukan batang dan daun, memerlukan kecukupan pengairan yang lebih banyak dibandingkan pada saat fase generatif/pembentukan bunga dan buah. Tataguna pengairan yang tidak stabil dapat mengganggu pada fase-fase pertumbuhan vegetatif dan generatif pada tanaman. Semisal pada tanaman padi, saat panen malah mendapatkan pasokan pengairan yang melimpah, dapat terjadi saat intensitas curah hujan tinggi selama beberapa hari, sehingga terdapat genangan air dilahan pertanian karena fungsi pintu irigasi yang terganggu/fungsi drain pembuangan terganggu atau jatah pasokan air yang justru melimpah karena tataguna air yang tidak stabil, maka dapat mengakibatkan kualitas bulir padi menurun karena kadar air pada Gabah Kering Panen (GKP) yang tinggi diatas 12%, sehingga memerlukan pengeringan lebih lama yang tentunya menambah waktu dan biaya alur produksi dan yang paling dirasakan oleh petani adalah harga jual saat GKP yang anjlok. Apabila dipaksakan untuk diproses menjadi beras maka akan terjadi penurunan kualitas beras yaitu patah bulir beras, warna beras kekuningan dan gampang rusak/busuk pada saat disimpan,
Hal-hal diatas menjadi perhatian utama OPD terkait Pemerintah Kota Kediri dalam perbaikan saluran-saluran irigasi termasuk pintu-pintu air yang menjadi usulan dari petani.

Kedepan akan dilaksanakan inventarisasi jaringan irigasi pertanian dengan pemetaan digital dari pengumpulan data-data survey lapang dan usulan-usulan dari petani lewat PPL. Tindaklanjut akan segera dilaksanakan dengan memperhatikan urgenitas dari usulan dan hasil data-data yang didapat.
Penulis : Tito Sumarsono, SP, MM – PMHP Ahli Muda